Selasa, 27 Desember 2011

Pelajaran dari Kisah Tiga Orang Bani Israel

Oleh Ina Febriany


Bersedekah adalah aktivitas ibadah nan mulia, namun disadari atau tidak sering dilupakan oleh sebagian orang. Kadangkala, saat kita sedang dalam keadaan berlimpah materi, ada saja kebutuhan yang harus dipenuhi. Sedangkan dalam keadaan sempit, maka shadaqah pun terasa sulit. Bagaimana bersedekah, sedang kebutuhan saja kian membelit? Akibatnya, hati kian sempit, dan merajalelalah sifat pelit. Naudzubillah.

Banyak orang berkata, sedekah tidak akan menjadikan si pemberi pelit. Ungkapan itu  ada benarnya. Namun, setiap orang memiliki persepsi masing-masing tentang hakikat sedekah mengingat makna shadaqah itu sendiri luas. 

Rasulullah Saw bersabda, “Senyum kepada saudara muslim itu sedekah.” Ada pula yang memaknai sedekah bukan dari segi senyuman, namun pemberian--yakni mereka yang membiasakan dirinya untuk bersedekah dalam keadaan apapun-- baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Ada yang kalau sedang lapang saja mau memberi, namun kala sempit ia nyaris mengesampingkan sedekah. Atau ada pula yang sama sekali enggan bersedekah.

Dalam Qs Ali Imran, Allah berfirman, ''Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134).

Allah telah berjanji--bagi siapapun hamba-Nya, lelaki maupun perempuan beriman, dalam keadaan lapang maupun sempit, tulus ikhlas, tidak ada unsur pamer dalam memberi, Allah akan melipatgandakannya sesuai dengan kehendak Allah, Sang Maha Meluaskan dan Menyempitkan Rezeki.

''Barang siapa yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (Al-Baqarah: 245)

Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, “ Sedekah yang bagaimana yang paling besar pahalanya ? ” Nabi Saw menjawab, “ Saat kamu bersedekahhendaklah kamu sehat dan dalam kondisi kekurangan. Jangan ditunda sehingga rohmu di tenggorokan baru kamu berkata untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian.” (HR. Bukhari)

Rasulullah menganjurkan kita untuk senantiasa membudidayakan sedekah dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi dalam keadaan kaya, ada amanat yang harus ditunaikan. Jika dalam keadaan kaya, itu adalah ujian dari Allah sebab Allah ingin melihat apakah hamba-Nya mampu mengolah apa yang Allah titipkan melalui sedekah. Sedangkan orang dalam keadaan sempit, itu pun cobaan dari Allah--sebab Allah ingin melihat apakah ia tetap berbagi meski dalam keadaan sulit materi.

Ada kisah mengenai tiga orang Bani Israil yang ketiga-tiganya diuji Allah Swt. semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ini.

Dari Abi Hurairah r.a, beliau mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Ada tiga orang Bani Israil (seorangnya) ditimpa penyakit kusta, seorangnya ditimpa penyakit rontok rambutnya dan seorang lagi buta. Maka Allah telah menguji ketiga-tiganya dengan mengutus kepada mereka seorang malaikat. 

Malaikat tersebut telah mendatangi orang yang berpenyakit kusta dan bertanya kepadanya, “Apakah yang paling engkau sukai?”

Jawab sang penyandang kusta, “Warna yang bagus serta kulit yang baik dan sembuh dari kotoran yang menyebabkan manusia memandang jelek kepadaku.''

Maka malaikat itu menyapunya dan lalu hilanglah penyakit itu dan diberi warna serta kulit yang baik. Malaikat bertanya lagi, “Harta apakah yang paling engkau sukai?”

Ia menjawab, “Unta atau sapi.'' Maka malaikat memberikan unta yang sedang mengandung sepuluh bulan dan mendoakan orang yang berpenyakit kusta tersebut.

Kemudian malaikat mendatangi orang yang berpenyakit rambut rontok lalu bertanya, “Apakah yang paling engkau sukai?”. 

Lelaki kedua menjawab, “Rambut yang bagus dan sembuh dari penyakit yang menyebabkan manusia memandang jelek  padaku.” Maka malaikat membersihkannya lalu hilanglah penyakit itu serta diberikan rambut yang baik.

Malaikat bertanya lagi, “Harta apakah yang paling Engkau sukai?” Ia menjawab, “Sapi,''. Maka ia diberikan sapi yang sedang bunting serta mendoakannya pula.

Kemudian malaikat datang ke orang buta, “Apakah yang paling engkau sukai?”

Ia menjawab, “Aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku semoga aku dapat melihat manusia. Malaikat meyapu matanya dan Allah mengembalikan penglihatannya.

“Harta apakah yang paling kamu sukai?” tanya malaikat. Jawab si buta, “Kambing biri-biri,” Maka dia diberikan seekor biri-biri yang telah melahirkan anak lalu mendoakan si buta agar selalu mendapat barakah Allah Swt.

Maka, kedua lelaki (berpenyakit kusta dan rambut rontok) mengurusi kelahiran unta dan sapi begitu juga dengan lelaki buta. Setelah sekian lama, lelaki yang berpenyakit kusta telah memiliki satu lembah berisi unta, sedang lelaki berambut rontok telah memiliki lembah berisi sapi dan lelaki buta telah memiliki satu lembah berisi kambing biri-biri.

Selang beberapa waktu, malaikat kembali mendatangi lelaki yang berpenyakit kusta dengan menjelma sebagaimana keadaan lelaki sebelumnya (berpenyakit kusta). 

Ia mengadu kepada lelaki tersebut, “Aku seorang lelaki miskin yang telah kehabisan bekal sewaktu aku bermusafir. Aku tidak mempunyai tempat untuk mengadu pada hari ini selain pada Allah dan pada Engkau. Aku memohon padamu demi yang telah memberikan padamu warna serta kulit yang baik juga harta seekor unta yang dapat membantuku meneruskan perjalananku.

''Aku mempunyai banyak tanggungan,'' jawab mantan penyandang kustal.

Malaikat menjawab, ''Aku rasa aku mengenalimu. Bukankah dulu kau berpenyakit kusta dan manusia memandang jelek kepadamu? Bukankah dulu kau orang fakir lalu Allah megaruniakan harta kepadamu ?''

''Aku mewarisi harta ini dari orangtuaku,'' jawab lelaki.

Malaikat menjawab, ''Sekiranya kamu berdusta, Allah akan menjadikanmu seperti keadaanmu sebelum ini.''

Malaikat pun mendatangi si rambut rontok serta melakukan hal yang sama, menjelma menyerupai keadaan seperti sebelum si lelaki kaya raya. Jawaban si rambut rontok pun senada. Ia enggan memberikan sebagian hartanya pada malaikat yang menjelma tersebut. Malaikat pun mendoakan agar Allah mengembalikan keadaannya seperti semula.

Terakhir, malaikat mendatangi si buta. Lalu mengadu,''Aku seorang lelaki pengembara yang miskin. Aku telah kehilangan kendaraan sewaktu aku mushafir. Maka aku tidak mempunyai tempat untuk mengadu melainkan kepada Allah dan engkau. Aku memohon darimu demi Yang telah mengembalikan penglihatanmu seekor kambing biri-biri yang bisa meneruskan perjalananku.''

Lelaki tersebut menjawab, ''Aku sebelum ini adalah lelaki buta. Allah telah mengembalikan penglihatanku. Oleh karena itu, ambilah apa yang engkau mau dan tinggalkan apa yang tidak engkau mau. Demi Allah, aku tidak akan mencegah dan mengungkit kembali pemberianku padamu untuk kau ambil karena Allah. 

''Jagalah hartamu. Seseungguhnya kamu telah diuji oleh Allah. Allah telah meridhaimu dan membenci dua orang sahabatmu,'' jawab malaikat. Wallahu a'lam bishawwab.


Minggu, 11 Desember 2011

KUE SATU KHAS BETAWI

 
·         
Bismillah..


Pernah denger nama "Kue Satu" ?? Kue tradisional betawi dengan nama yang unik. Banyak yang bertanya kenapa namanya harus kue satu?? kenapa ngga kue dua, kue tiga, dan seterusnya?? hehe.. sebenarnya "satu" pada nama kue ini bukan mengidentifikasikan pada bilangan, bukan juga karna kue ini dibuat cuma satu, tapi karna kue ini harus dicetak satu per satu alias harus telaten, begitulah kata ibuku.




Yup, sebagai keluarga besar yang tulen betawi,
 murni tanpa belasteran adat mana-mana (bahkan aku dan kakak2 ku  pun jodohnya berasal dari keluarga besar betawi juga, heuheu). Keluarga ku masih terbilang sangat menghargai warisan turun temurun nenek moyang (tsah, bahasanya) khususnya ibu ku. Saat para ibu lain (meski sama-sama ras betawi) sibuk hunting kue-kue modern untuk sajian dan hantaran lebaran, ibu ku justru masih konsisten dengan kue-kue tradisional yang murni dibuat dari tangannya sendiri. Mulai dari opak, rengginang, wajik, kue bakar dan terutama kue satu. Bahkan, kue-kue itu tidak hanya dibuat saat lebaran aja, saat ada acara-acara penting pun, ibuku selalu menyempatkan untuk buat juga, seperti ketika acara pernikahanku kemarin. Ketika ku bertanya pada beliau -ibu ku- kenapa masih repot bikin kue-kue itu disaat acara sudah semakin menjelang hari H, ibu ku berkata "dari kue kita bisa memberitahukan pada orang-orang bahwa kita dari keluarga betawi yang bangga pada adatnya, meskipun tanpa harus repot menjelaskan ke orang-orang betapa bangganya kita pada betawi" aku sih cuma mangut-manggut aja..



Kembali ke kue jadul bernama kue satu. Sebelum
 aku posting tulisan ini, aku sempet googling resep dan cara pembuatan kue satu. Aku sempet nyengir ketika baca resep dan cara pembuatan kue satu dari beberapa sumber. Ada yang menyertakan bahan lain selain kacang hijau dan gula dalam ingredients nya. Bahkan ada yang harus pake oven agar kue ini siap disantap. Tentu tak salah, karna masing-masing punya caranya yang berbeda. Tapi dalam hal ini aku cuma ingin mencoba membandingkan dengan apa yang selama ini aku praktikan sendiri sesuai resep yang diajarkan ibu ku. Secara selama SMP dan SMA tiap liburan sekolah tiba menjelang libur lebaran, aku -juga kakakku- selalu bantu ibu membuat kue ini. Jadi sampai hafal bahan dan proses pembuatannya..  Cekidot yaa...




Kue satu yang sering ibuku buat ada 2 : kue satu kacang hijau dan kue satu ketan. Tetapi, yang sering diminati orang yaitu kue satu kacang hijau karna teksturnya yang lembut dan mudah dilumat, sedangkan kue satu dari bahan ketan itu keras, jadi buat para lansia yang sudah jarang giginya, dijamin ga kuat gigit. hehe


Ingredients nya :
- Kacang Hijau
- Gula
Perbandingannya 1 : 1. Kalau kacang hijau nya 1 kilogram, berarti gulanya juga harus 1 kilogram. Kalau takaran dari salah satu kedua bahan tersebut dikurangi, maka pada saat dicetak, kue tersebut tidak akan bagus hasilnya. Perbedaannya seperti nasi pulen dengan nasi pera' (semoga ngerti ya pera' itu bagaimana, hehe).


Cara Pembuatannya :
1. Kacang hijau di sangrai dan harus terus diaduk supaya ngga gosong.

2. Setelah di sangrai, kacang hijau di tumbuk menggunakan lumpang batu sampai kulit bagian hijaunya terkelupas, setelah itu di tampih menggunakan tampah untuk memisahkan kacang hijau dengan kulitnya.



3. Kacang hijau yang setelah proses ini sudah tak hijau lagi, selanjutnya dikukus. Setelah dikukus kira-kira 15menit, dihamparkan pada tampah untuk menghilangkan uapnya hingga suhu kacang menjadi agak lembab.

4. Setelah itu, kacang hijau dan gula dibawa ke pasar tradisional untuk dilakukan penggilingan menggunakan alat yang juga masih tradisional. Alatnya seperti alat pemarut kelapa di pasar-pasar gitu. Penggilingan bahan dilakukan terpisah, kacang hijau dan gula tidak digiling bersamaan.

5. Sesampainya dirumah, kacang hijau bubuk diayak menggunakan saringan santan kelapa. Untuk memastikan bahwa tidak ada gumpalan-gumpalan. Begitu pula dengan gulanya, diayak diatas adonan kacang hijau bubuk tersebut, selanjutnya diaduk menjadi satu. Aku suka sekali proses ketika mengayakan gula bubuk, karena tanpa harus merasakannya (karna lagi puasa) tapi manisnya terasa sampe ke mulut, hehe.. Ketika kedua bahan tercampur, sebenarnya sudah bisa disantap, makanya dulu ketika lagi ga puasa, aku suka siapin sendok, bentar2 nyicip adonannya, jiaaahhh.. perut kenyang, hati pun senang...
 http://images.multiply.com/common/smiles/shade.pnghttp://images.multiply.com/common/smiles/wink.png

6. Adonan dicetak menggunakan cetakan yang -lagi2- masih tradisional. Yaitu cetakan kayu berpahat. Adonan dimasukkan ke tiap lubang cetakan lalu ditekan dengan ibu jari sampai padat. Di sisir menggunakan pisau, dan untuk mengeluarkan adonan dari cetakkan, tinggal di getok menggunakan gagang pisau aja, dan taraaaaaaaaa jadilah kue berbentuk sesuai cetakan, pada umumnya bentuk bunga-bunga gitu...




7. Proses terakhir adalah, penjemuran. Yup, mungkin ini bedanya home made dengan industri pabrikan. Kue satu buatan betawi asli sebelum dilakukan packing ke toples, harus di jemur dibawah terik matahari langsung dan secara alami akan mengeras dengan sendirinya. Kalau cuaca sedang panas, kue ini cukup dijemur selama 2hari, tapi kalau cuaca sedang tidak bersahabat, bisa 3-4hari. Oiya, selama dijemur kue ini harus terus diawasi, jangan sampai kena air karna bisa meninggalkan bekas bintik-bintik pada kuenya. Itulah kenapa dulu ketika aku masih SMP jarang banget tidur siang pas ramadhan, karna ditugasin
 mandorin kue (ibu ku sibuk masak buat buka puasa), namanya anak-anak, pasti males dan ngantuk banget, tapi supaya ga BT, maka dibuatkanlah ayunan dibalkon lantai 2 rumahku kala itu, dan ku ajak aja temen2 main. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil ngejalanin tugas, main nya jalan terus.. hihi.. Tapi tetep aja, ujung-ujungnya ngantuk pas tarawih... Zzzz

8. Terakhir packing ke toples deh.. 1 kilogram kacang hijau, bisa jadi 5 toples kue nastar. Lumayan kaann...


Tradisi pembuatan kue ini, tetap dilakoni ibu ku hingga sekarang. Banyak juga yang pesan ke ibu ku untuk dibuatkan bahkan jauh semenjak awal ramadhan, karna memang pembuatan kue ini sangat berpengaruh pada kondisi cuaca (dan memang harus ngantri kalau mesen, hehe). Terlebih tak banyak orang -baik non maupun betawi sekalipun- yang tidak mau atau tidak bisa membuat kue ini. Padahal kebanyakan sanak saudara mulai dari anak-anak dan khususnya lansia lebih senang dikasih kue2 tradisional semacam ini dibanding kue2 modern. Masalah keawetan kue, karna dilakukan dengan murni tradisional, kue ini bisa bertahan hingga berbulan-bulan bahkan hingga 1tahun, kata ibuku.


Salah satu pengemar kue satu ini adalah seorang mba dikantorku. Beliau seneng banget pas tau kalau ibu ku bisa buat kue satu saat menghadiri pernikahanku. Karna -menurut pengakuannya- kue satu ini kue favoritnya saat kecil. Beliau seneng banget akhirnya menemukan pembuat kue satu yang asli betawi, bukan kue pabrikan yang selama ini dia beli di toko-toko, katanya rasanya beda. Itu lah kenapa minggu lalu dia pesen 2kilogram kue satu untuk oleh-oleh ke kampungnya lebaran tahun ini.. Ada yang minat mencicipi kue satu buatan ibu ku?? cuma 100ribu untuk 1kilogram dengan hasil 5 toples kue nastar.. lho, koq jadi promosi? hehe, maksud ku, kalau kamu penasaran, silahkan bersilaturahim ke kediaman mini ku.. ada beberapa kue home mode asli buatan keluarga betawi ^_^




Cara Memperlakukan Istri

Oleh: Mochamad Bugi
“Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan kejiyang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allahmenjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)
Menikah adalah fitrah manusia. Rasulullah saw. menyebut menikah sebagai sunahnya. Bahkan, Nabi berkata, siapa yang membenci sunahnya, tidak termasuk dalam golongannya.
Setiap kita, pasangan muslim dan muslimah yang melakukan pernikahan, paham betul bahwa tujuan menikah yang utama adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Setelah itu untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawahdah wa rahmah dan meneruskan keturunan dengan memperoleh anak-anak yang saleh dan salehah. Kita juga menyadari bahwa lembaga keluarga yang kita bentuk adalah wadah untukmelaku proses perubahan, baik untuk diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan juga sadar bahwa keluarga adalah organisasi kecil yang memiliki aturan dalam pengelolaannya. Karena itu, sepasang suami-istri harus bisa memahami hak dan kewajiban dirinya atas pasangannya dan anggota keluarga lainnya.
Sepasang suami-istri dalam berinteraksi di rumah tangga sepatutnya melandasi hubungan mereka dengan semangat mencari keseimbangan, menegakkan keadilan, menebar kasih sayang, dan mendahulukan menunaikan kewajiban daripada menuntut hak.
Kewajiban seorang istri terhadap suaminya adalah pertama, mentaati suami. Namun, dalam mentaati suami juga ada batasannya. Batasan itu adalah seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Tidak ada ketaatanterhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah, Sang Pencipta.”
Kewajiban seorang istri terhadap suami yang kedua adalah menjaga kehormatan dirinya, suami, dan harta keluarga. Ketiga, mengatur rumah tangga. Keempat, mendidik anak-anak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim,Rasulullah saw. bersabda, “Wanita adalah pengasuh dan pendidik di rumah suami, dan bertanggung jawabatas asuhannya.” Keluarga adalah prioritas seorang istri, meski tidak adalarangan baginya untuk melakukan peran sosialnya di masyarakat seperti berdakwah, misalnya.
Dan kewajiban lain seorang istri kepada suaminya adalah berbuat baikkepada keluarga suami.
Sedangkan kewajiban seorang suami kepada istrinya adalah pertama, membayar mahar dengan sempurna. Kedua, memberi nafkah. Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan wanita, karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah; dan kewajiban kamu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik.”
Ketiga, suami wajib memberi perlindungan kepada istrinya. Keempat, melindungi istri dari siksa api neraka. Ini perintah Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Kewajiban keempat, mempergauli istri dengan baik. Allah berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)
Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (Tirmidzi)
Muasyarah bil ma’ruf
Di ayat 19 surat An-Nisa di atas, Allah swt. menggunakan redaksi “muasyarah bil ma’ruf”. Makna kata “muasyarah” adalah bercampur dan bersahabat. Karena mendapat tambahan frase “bil ma’ruf”, maknanya semakin dalam.Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan “perbaikilah ucapan, perbuatan, penampilan sesuai dengankemampuanmu sebagaimana kamu menginginkan dari mereka (pasanganmu), maka lakukanlah untuk mereka.”
Sedangkan Imam Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Pergaulilah istri kalian sebagaimana perintah Allah dengan cara yang baik, yaitu dengan memenuhi hak-haknya berupa mahar dan nafkah, tidak bermuka masam tanpa sebab, baik dalam ucapan (tidak kasar) maupun tidak cenderungdengan istri-istri yang lain.”
Adapun Tafsir Al-Manar menerangkan makna ”muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masamdalam setiap perjumpaan, karena semua itu bertentangan dalam pergaulan yang baik dalam keluarga.”
Di antara bentuk perlakuan yang baik adalah melapangkan nafkah, meminta pendapat dalam urusan rumah tangga, menutup aib istri, menjaga penampilan, dan membantu tugas-tugas istri di rumah.
Salah satu hikmah Allah swt. mewajibkan seorang suami ber-muasyarah bil ma’ruf kepada istrinya adalah agar pasangan suami-istri itu mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Karena itu, para ulama menetapkan hukum melakukan “muasyarah bil ma’ruf” sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh para suami agar mendapatkan kebaikan dalam rumah tangga.
Karena itu, para suami yang mendambakan kebaikan dalam rumahtangganya perlu mendalami tabiat perempuan secara umum dan tabiat istrinya secara khusus. Jika menemukan ada sesuatu yang dibencidalam diri istri, demi kebaikan keluarga temukan lebih banyak kebaikan-kebaikannya. Suami juga harus tahu apa perannya dalam rumah tangga. Dan, jangan pernah mencelakan istri dengan kekerasan, baik secara fisik maupun mental. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.,” Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan , memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.”
Bagaimana jika timbul perselisihan? Cekcok antara suami-istri adalah hal yang manusiawi. Jika Rasulullah saw. memberi toleransi waktu tiga hari bagi dua orang muslim saling mendiamkan satu sama lain, alangkah baiknya jika suami-istri saling mendiamkan di pagi hari, di malam harinya sudah bisa saling senyum lagi.Kenapa?
Sebab, pasangan suami-istri muslim dan muslimah paham betul bahwa perselisihan mereka adalah gangguan Iblis. Rasulullah saw. pernah menerangkan kepada para sahabat, “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukannya, maka yang paling dekat kepadanya, dialah yang paling besar fitnahnya. Lalu datanglahsalah seorang dari mereka seraya berkata: aku telah melakukan ini dan itu, Iblis menjawab, kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian datanglagi yang lain melapor, aku mendatangi seorang lelaki dan tidak akan membiarkan dia, hingga aku menceraikan antara dia dan istrinya, lalu Iblis mendekat seraya berkata, “Sangat bagus kerjamu” (Muslim)
Begitulah, Iblis menjadikan menceraikan pasangan suami-istri sebagai prestasi tertinggi tentaranya. Karena itu, Islam mencegah perbuatanyang bisa menyebabkan perselisihan suami-istri. Karena itu, jika cekcok dengan pasangan hidup Anda, segera selesaikan masalahnya. Upayakan selesaikan masalah rumah tangga sendiri. Jangan menghadirkan pihak ketiga. Jika belum selesai juga, hadirkan seseorang yang bisa menjadihakim yang bisa diterima kedua belah pihak.
Seiring dengan panjangnya perjalanan waktu dan lika-liku kehidupan, kadang ikatan pernikahan mengkendur. Karena itu, perkuat lagi ikatan itu dengan mengingat-ingat kembali tujuan pernikahan. Bangun komunikasi yang positif. Komunikasi adalah kunci keharmonisan. Karena itu, pahami betul cara berkomunikasi pasangan Anda. Dan, hidupkan syuro dalam keluarga. Bahkan untuk urusankecil sekalipun perlu dibicarakan bersama. Insya Allah, Allah swt. akan memberi kebaikan yang banyak dalamkeluarga Anda. Amin.
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2009/cara-memperlakukan-istri/

SOAL PAT IPS KELAS 9

PENILAIAN AKHIR SEMESTER GENAP TAHUN 201 9 -20 20   Mata    Pelajaran                  : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Kelas/Seme...